Masjid Agung Air Mata

Masjid Agung Air Mata atau nama aslinya Masjid Agung Al – Baitul Qadim Airmata berada di kelurahan Air Mata , kota Kupang , NTT.  Setiap masjid yang menggunakan kubah pastinya menginginkan harga kubah masjid yang memiliki harga murah tetapi setiap bangunan kubah pastinya mempunyai kualitas bahan yang dimilikinya sehingga ada juga harga yang ditawarkan. Masjid Agung Al – Baitul Qadim Airmata  ini juga merupakan masjid yang sudah berumur tua yang ada di kupang. Masjid Agung Al – Baitul Qadim Airmata juga merupakan simbol pemersatu antara umat beragama, karena sejak masjid ini dibangun masyarakat nasrani pun juga bergotong royong untuk membangun masjid ini. Kelurahan air mata ini adalah pemukiman muslim yang pertama yang ada di kupang, NTT. Kata air mata yang ada pada Masjid Agung Al – Baitul Qadim Airmata ini memiliki dua makna yakni kawasan ini memang tempat sumber mata air sungai yang membelah kota kupang ini. Makna yang kedua yakni di kawasan ini terdapat banyak air mata akibat kejamnya penjajahan bangsa belanda serta jepang. Setidaknya ada 3 ulama yang ditangkap kemudian diasingkan ke belanda hingga para ulama tersebut wafat dan dimakamkan di tempat ini. Para ulama ini berna Kiyai Arsyad yang berasal dari Banten, Dipati Amir Bahrain yang berasal dari bangka dan juga Sultan Dompu asal Bima. Ketiga tokoh ulama ini juga merupakan seorang penyebar agama islam di kupang dan juga sekitarnya. Makam dari tokoh ulama ini berada di dekat kompleks yang bernama Kuburan Batu Kadera.

Sejarah Masjid Agung  Airmata

Masjid Agung Al – Baitul Qadim Airmata atau masjid agung air mata ini sudah berumur sekitaran 200 tahunan yang dibangun di atas tanah hibah Sya’ban bin sanga kala pada tahun 1806 dengan kyai Arsyad dan juga dibantu dengan umat nasrani yang ada disekitaran kampung airmata kupang ini. Sya’ban bin sanga kala ini adalah seorang muslim pertama yang berasal dari sebuah kampung di pulau solor bagian barat. Menurut seorang peneliti, agama islam pertama kali masuk di mulai dari pulau solor yang ada di kabupaten flores timur yang dilakukan oleh seorang pedagang yang juga seorang ulama dari palembang yang bernama Syahbudin bin Salman Al Faris atau dikenal dengan sultan menanga. Dari mananga inni selanjutnya islam perlahan lahan masuk ke dalam kawasan pulau Flores, alor serta kupang ini. Hampir 6 tahun masjid Agung  Airmata ini selesai dibangun dan pada tahun 1984 imam turunan ke tujuh dari masjid ini mulai melakukan pemugaran yang bermanfaat untuk melestarikan keberadaan masjid ini sebegai pusat penyebaran islam yang ada di pulau timor. Pada dasarnya Masjid Agung  Airmata ini bukan masjid yang pertama kali dibangun melainkan ada dua masjid yang sudah berdiri sebelumnya yang didirikan oleh Kyai Arsyad tapi diberangus oleh penjajah bangsa belanda, sebelum Kyai Arsyad ini di tangkap dan di asingkan beliau juga memimpin perlawanan masyarakat cilegon, banten kepada bangsa belanda.

Arsitektur Masjid Agung  Airmata

Masjid ini dibangun dengan perpaduan dari unsur budaya flores dan juga arab sebagai simbol sebuah perlawanan warga airmata terhadap bangsa belanda dan juga jepang saat itu. Pada awalnya masjid ini dibangun dengan arsitektur jawa dan juga cina dengan bentuk joglo dan tahun 1984 terjadi pemugaran dan bentuknya seperti saat ini. Pemugaran ini dilakukan karena kondisi tempat beribadah ini yang sudah tua dan atapnya sudah rapuh sehingga perlu untuk direnovasi tanpa menghilangkan keasliannya yang ada pada bagian dinding ruangan masjid ini.